KOMPAS.com — Inovasi dan kreativitas menjadi modal penting dalam membangun kewirausahaan. Selain itu, juga ketahanan mental yang membuat wirausahawan bertahan dalam berbagai kondisi usahanya.
Generasi wirausaha yang kreatif dan berani tampil dengan brand inovatif akan dimiliki Indonesia, jika wirausaha ditanamkan pada anak usia 0-7 tahun.
"Entrepreneurship perlu masuk dalam kurikulum seperti yang dilakukan sekolah internasional yang ada di Indonesia. Program business day di sekolah internasional ini mengajarkan anak untuk kreatif. Anak berpikir mengenai apa yang mau dijual. Hal kecil seperti ini melatih anak untuk berpikir kreatif dan berinovasi," jelas pengamat ekonomi, Aviliani, saat peluncuran program reality show kompetisi wirausaha Diplomat Success Challenge, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pengetahuan yang didapat pada usia ini akan diterima anak 80 persen. Jika sudah melebihi usia tujuh tahun, yang diandalkan hanyalah bakatnya, tambah Aviliani. Wirausahawan yang sukses dilatari oleh sikap mental, kreativitas, dan inovasi yang telah terlatih sejak kecil.
Siapa pun bisa menjadi wirausahawan, tetapi tingkat keberhasilannya dipengaruhi daya inovasi dan kreasi dalam diri. Seperti karyawan yang ingin beralih profesi menjadi pebisnis contohnya, hal ini mungkin saja. Namun, kata Aviliani, mereka cenderung memilih usaha yang mudah seperti franchise dan cenderung memiliki kreativitas rendah.
"Karyawan bisa saja beralih menjadi wirausaha, namun kecenderungan cara berpikirnya adalah daripada uang ditabung, lebih baik berbisnis dengan franchise. Kreativitasnya rendah. Karenanya, orang Indonesia lebih suka franchise daripada membangun brand baru," lanjutnya.
Melibatkan anak dalam kegiatan bisnis orangtuanya juga menjadi cara melatih kewirausahaan. Anak akan merekam perilaku orangtuanya saat menjalani usaha. Pengalaman inilah yang akan melekat dalam dirinya.
"Orang Indonesia cenderung meminta anak fokus ke sekolah saja setinggi-tingginya, sementara orangtua menjalani berbisnis. Saat anak harus menggantikan bisnis orangtuanya, yang terjadi adalah usaha tak berhasil karena anak tidak tahu cara berjualan atau menghadapi konsumen," jelas Aviliani.
Jika saja anak dibolehkan terlibat dalam aktivitas bisnis orangtuanya sejak kecil, maka sikap mentalnya akan terbangun. Anak mampu menjalani bisnis orangtuanya saat dewasa karena tak gengsi dan mau bekerja keras, seperti orangtua yang membangun bisnis dari nol.
Mencetak Wirausaha Sukses Harus sejak Dini
Chairul Tanjung: 2030, RI Jadi Negara Maju
5 Oktober 2010.
VIVAnews – Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung menyatakan Indonesia bakal menjadi negara maju pada 2030.
Indonesia akan mencapai pertumbuhan tinggi dan bertransformasi menuju negara maju dalam beberapa tahap.
Tahap pertama, kata Chairul, sampai dengan tahun 2015 merupakan tahap pembenahan. ”Kami prediksi pertumbuhan ekonomi berkisar antara 5-7 persen per tahun,” ungkapnya kepada wartawan usai menyampaikan orasi ilmiah dihadapan ratusan mahasiswa dan pejabat IPB di Auditorium Rektorat, gedung Andi Hakim Nasution, IPB Dramaga, Selasa 5 Oktober 2010.
Tahap kedua, yakni pada tahun 2015–2025 merupakan tahap akselerasi bagi Indonesia. Pada tahap ini, perekonomian makin membaik dengan dorongan industrialisasi dan implementasi teknologi yang memadai dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 9-11 persen per tahun.
Untuk mencapai angka pertumbuhan ekonomi setinggi itu, pertumbuhan sektor industri harus mendorong pertumbuhan sektor lain, terutama sektor jasa.
Tahap ketiga adalah tahap berkelanjutan yaitu tahun 2025-2030. “Di tahap ini, Indonesia mulai masuk sebagai salah satu negara maju,” paparnya.
Namun, Chairul mengingatkan untuk menuju Indonesia maju, tidak bisa dilepaskan peran serta pengusaha nasional, serta kebersamaan semua lapisan masyarakat dan semuan komponen bangsa untuk bersatu guna menciptakan itu semua.
Dia mengingatkan untuk menuju Indonesia maju dan bisa bersaing dengan negara lain diperlukan kerjasama semua komponen bangsa terwujudnya Indonesia maju 2030 juga tidak lepas dari upaya maksimal dalam mamanfatkan seluruh potensi yang dimiliki Indonesia.
Sementara itu, Rektor IPB Herry Suhardiyanto menegaskan pihaknya siap menyiapkan jebolan-jebolan IPB yang terbaiknya guna menunjang program pemerintah maupun para pengusaha.
PTN Wajib Terima 20% Mahasiswa Tak Mampu
OkeZone.com.JAKARTA - Salah satu poin penting yang diatur dalam PP Nomor 66 Tahun 2010 adalah perguruan tinggi negeri (PTN) harus mengalokasikan sekira 20 persen dari kuota mahasiswa mereka, untuk menampung para calon mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi.
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh menegaskan, poin tersebut adalah suatu keharusan karena merupakan kebijakan nasional.
"Tidak ada tawar menawar untuk aturan 20 persen tersebut. Ini sudah afirmatif. Karena itu, setiap pemimpin PTN wajib melaksanakannya,” papar Mendiknas kepada wartawan di Gedung Kemendiknas, Jakarta, Senin, 4 Oktober sore.
Meski demikian, Nuh menilai, akan ada tiga pandangan di antara para pemimipin PTN mengenai aturan tersebut. Pandangan pertama, para pemimpin PTN sangat menerima aturan menampung 20 persen mahasiswa tidak mampu. Hal ini, menurut Nuh, akan dilihat sebagai kesesuaian antara kebijakan yang diambil sebagian besar PTN dengan ketetapan pemerintah.
Pandangan kedua, para pemimpin PTN menetapkan syarat dan kondisi tertentu untuk penerapannya. Sedangkan pandangan terakhir adalah menolak.
“Karena ini kebijakan nasional, maka harus para pemimpin PTN harus didorong agar mengambil sikap yang pertama tadi. Sebab, jika tidak diintervensi, persentase pelajar yang tidak kuliah akan semakin besar,” imbuhnya.
Seperti diketahui, saat ini persentase mahasiswa dari kalangan ekonomi lemah hanya sekira 6,4 persen dari total populasi. Pemerintah berencana menaikkan persentase tersebut hingga mencapai sepuluh persen pada 2011.
Mendiknas menambahkan, salah satu skema pemenuhan kuota 20 persen tersebut dapat dipenuhi dengan pemberian beasiswa, misalnya melalui program Bidik Misi. “Program ini bisa memenuhi sekira sepuluh persen dari kuota. Sehingga PTN tinggal memenuhi sisasnya,” jelasnya.