home

Indonesia Tidak Siap Hadapi "Persaingan"

2 Desember 2010.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi mengatakan, Indonesia sesungguhnya tidak siap menghadapi Komunitas Ekonomi ASEAN tahun 2015.

”Kita tidak pernah menyelesaikan pekerjaan rumah, seperti masalah infrastruktur dan perizinan investasi,” kata Sofjan, Rabu (1/12/2010) di Jakarta. Ia mengomentari pernyataan Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan yang mengatakan, Komunitas Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) terancam gagal.

AEC merupakan julukan bagi ASEAN yang akan mengalami integrasi ekonomi pada 2015, dengan lalu lintas perdagangan, investasi, dan mobilitas warga, yang layaknya seperti satu negara.

Menurut Sofjan, apabila AEC betul-betul diterapkan, Indonesia akan dimanfaatkan oleh negara lain sebagai tujuan ekspor. Dalam kerangka Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China saja, industri manufaktur Indonesia sudah terimpit.

”Kalau memang mau memasuki ASEAN Economic Community, pemerintah harus kerja keras membenahi infrastruktur untuk memperlancar kegiatan ekspor dan impor. Libatkan swasta supaya pembenahan infrastruktur lebih cepat,” kata Sofjan.

Pemerintah perlu membenahi perizinan yang tumpang tindih dan menghambat investasi. Banyak investor lebih memilih Thailand untuk dijadikan sebagai basis produksi karena lebih ”ramah” kepada investor.

Reaksi pemerintah

Menteri Perindustrian MS Hidayat menegaskan, ”Indonesia kaya sumber daya alam. Negara ini semestinya mendorong industri hilir sehingga memiliki nilai tambah dari setiap bahan baku yang diolah.”

Menurut Hidayat, industri domestik kini menghadapi persoalan berat karena bahan baku yang tersedia tidak memadai.

Tantangan industri menghadapi AEC sangat berat. ”Satu-satunya upaya yang bisa dilakukan sejak dini adalah meningkatkan daya saing,” kata Hidayat.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan keoptimisannya soal AEC karena punya keunggulan di bidang sumber daya alam. Juga ada indikator peningkatan investasi manufaktur yang sangat terkait dengan peningkatan produktivitas berorientasi ekspor. ”Ke depan kita harus menjaga daya saing dengan mengerjakan pekerjaan rumah bangsa ini,” kata Mari.

Pekerjaan rumah yang dimaksud Mari adalah perbaikan infrastruktur untuk menyelesaikan masalah logistik dan penyediaan energi listrik dan gas. Selain itu, penciptaan iklim investasi, dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang produktif, menekan biaya yang tidak kompetitif, dan menyelesaikan regulasi ketenagakerjaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar